Menghukum tanpa Kekerasan


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Ada cerita menarik dari masa muda Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi)

Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau disini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama. “. Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya.

Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun “Kenapa kau terlambat?”.

Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”. Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik- baik.”.

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah akan berbohong lagi.

Komentar Arun:

“Sering kali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan.”

Sering kita menggunakan alasan ketegasan dan kebenaran untuk ‘melegalkan’ aksi kita menghina dan menyakiti orang-orang di sekitar kita, entah anak, pacar, bawahan,  saudara, atau bahkan orangtua kita. Padahal, jika kita mau berpikir lebih dalam sebelum menyakiti hati orang lain dengan perkataan atau perbuatan kita, mungkin justru kita akan mampu membuat mereka menemukan tujuan kita dengan cara yang lembut. Percaya atau tidak, marah-marah justru tidak akan pernah membuat seseorang menjadi seperti yang kita mau… yang terjadi justru adalah permusuhan pribadi.

Bukan berarti kita tidak boleh marah, tapi setidaknya pikirkan dua kali cara menyampaikan rasa marah tersebut. Semoga dapat menjadi pencerahan.

Salam, Chon2…

– Visit me @ mikirdong.com


Ps : Jika ingin artikel Anda dimuat di situs Tim Pendamping IPB silakan kirimkan artikel Anda ke :
me@cahyohanendyo.com
You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Menghukum tanpa Kekerasan”

  1. jimboy says:

    yapz setuju dengan kesimpulan yang telah tertuis di atas..
    karena setiap manusia pada hakekatnya ingin diperlakukan dan dihargai dengan baik dan tulus..
    mahatma gandi telah memperlihatkan kepada kita bagaimnana menyelesaikan masalah dengan pengorbanan sejati tanpa sama sekali menurunkan harga diri pada anaknya yang telah melakukan kesalahan besar pada diri sendiri..sehingga dengan sikap yang dilakukan oleh mahatma ganda, tidak hanya anaknya yang akan berubah sikap dan pola pikir dalam hidupnya, tetapi kitapun juga akan merasakan perubahan yang baik yang dapat memberikan inspirasi kepada sesama kita..

    thx,

    jimboy

  2. capung merah says:

    indahnya kalau kita bisa menerapkannya di keluarga kita di pendamping… sehingga menghakimi antar saudara itu tidak terjadi.

Leave a Reply

Psssttt!!! Temenmu mampir kesini pake kata kunci ini lho:

Powered by WordPress | Belajar WordPress | Kursus Seo | Souvenir Pernikahan | Peluang Usaha