Perjalanan Tak Terlupakan (Menjelajah Lain Dunia)


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Rabu, 7 Juli 2010
Kami (aku dan temanku W) berangkat dari stasiun lempuyangan, jogja jam 04.45 pm dengan kereta ekonomi Progo tujuan stasiun Senen, Jakarta. Di tiket, tertera ‘TANPA TEMPAT DUDUK’ jadi kami memang tidak mendapat tempat duduk, he he he he… Masuk kereta sesaat sebelum kereta berjalan dan mendapati seluruh gerbong sudah padat dat dat… Akhirnya kami memutuskan di gerbong nomer 3 dari belakang dan mendapat 1 kursi dengan kebaikan hari seorang bapak bernama Nanang. Aku dan W janji gantian duduk. Di kereta itu, kami bertemu dengan keluarga pak Nanang itu, dia bersama kakaknya pak Anton, anak perempuannya Kinan, dan dua anak pak Anton, Rano dan Rana. mereka habis berlibur di Jogja. di sebelahku (kursi hibahan tadi) ada seorang ibu dan keponakannya. Kereta berjalan, merayap maksudnya, hehehe, dan seribu pedagang lalu lalang di tengah tumpukan manusia. Wew. Kalau W duduk, aku berdiri, kalau aku duduk, W berdiri, bergantian di setiap stasiun… rukun banget, hahahaha… lama-lama laper juga, W makan nasi bungkus, aku makan pop mie… pizza hut, hok ben, kfc, kalah!!! Yummy… Tengah malam kebelet pipis ternyata toilet dipake tidur orang! woalaaah, menahan kebelet pipis itu sangat menyakitkan saudara-saudara… O iya, semalaman ibu di sebelahku tidur di pangkuanku dan ngileeerrr… what a…!!!!!

Kamis, 8 Juli 2010
Seharusnya, kereta merapat di Senen jam 1 malam, dan kami berencana untuk tidur dulu di mushola supaya mata ga saingan dengan panda, tapi kenyataan berkata lain. Kereta Progo berniat saingan dengan bekicot sehingga kami tiba di Jakarta jam 6:30 am. Sampai di stasiun hal pertama yang kami cari adalah kamar mandi. segeralah kami mandi, secepatnya karena di gedor orang-orang yang ngantri… hi hi hi… JREEEENG… Bak putri cinderela, kami berganti rupa, dari dua gadis kereta api yang kucel menjadi dua mahasiswa manis cantik berseri…heg heg heg…
07:10 kami sarapan di suatu kedai di dlam stasiun sambil bedakan, hehehe.. menu kami adalah soto dan teh panas. “Berapa mbak?” jawab mbaknya, “Yang soto ayam dan teh manis 25ribu, yang soto daging dan es campur 30 ribu”, jangkriiiiiikkk…. tiket kereta 35 ribu, sarapan 25rb? mending beli dunkin donat tadi. Ya sudahlah, rejekinya si ibuk.
Keluar dari stasiun kami naik taksi ke Mega Kuningan, ke Kedutaan Swedia. Di dalam taksi W membawa ke-Bantul-annya,’Kemana mbak?’, jawab W, ‘Gedung Rajawali Pak, deket JW Mariot itu lo, tinggal MAK NYUK..’, wuahahahahahaha… padahal si bapak teh orang padang… cerita punya cerita, si bapak supir anaknya 1 lulus dari teknik UI, dan yang 2 masih kuliah di politeknik UI, WOW!!!!
07:50 am, samapi di Mega Kuningan. Janjiannya sih jam 08:30, jadi kami berencana mengekplorasi gedung itu, tapi diusir satpam karena mondar-mandir. Bayangkan, kami kan mau foto-foto, malah disuruh tunggu di lobi… iiihhh, satpam jelek!
09:45 am kami sudah di depan mal Ambassador dan naik angkot ke stasiun Tebet… Jam 11 naik KRL ke Bogor… Bye Jakarta… Bogor, we are coming…

12:15 Welcome to rain city W… “Mbak, ini angkotnyaaaaa… waduh, lebih macet dari Jakarta ya?”, hehehe.. Naik angkot 03 ke baranangsiang, turun di Pangrango Plaza kami menuju Malabar, makan mie ayam Bantolo, ngeprint proposal dan berangkat ke LIPI. Kemanapun perginya, makannya mie ayam. Baiklah…

01:30 Berangkat ke LIPI naik bus tiga perempat arah Kampung Rambutan. Sampai di LIPI sudah jam 02:30, lari W,  lariiiiiiiiiiiiiiiii!! Kami ke biotek LIPI dulu aku mau bimbingan, he he… saat aku bimbingan, ada yang sms “mbak, aku kekunci di kamar mandi”, hehe… 02:55 kami di perpus biotek, dan setelah itu lari ke biologi LIPI….

03:05 pm kami sampai di Biologi LIPI, Pak Joko yang harusnya ditemui ternyata sedang ke Sulawesi, jadi kami disambut oleh makhluk luar biasa baik bernama pak Ilyas…eh, mas Ilyas… dua botol teh botol sosro menemani perbincangan kami yang hangat di sore yang mendung itu. Bukan cuma kultur yang kami dapatkan, tapi juga permen dan jadwal kereta. Thank you mas ilyas for ur kindly assist to us. Satu kalimat mas Ilyas yang melekat dalam hati kami, “Saya yakin kok mbak, kalau kita berbuat baik, sebenarnya untuk diri kita juga, nanti akan dibalaskan pada kita, jadi mari kita selalu berbuat baik.”, ujarnya saat kami mengucapkan terima kasih.
Jam 04:00 pm pegawai LIPI bubaran, mas Ilyas mencoba mengejarkan bus karyawan supaya kami tidak perlu jalan sampai depan ternyata we missed the bus, he he he… yuk, lari lagi W…

05:30 pm kami sampai di stasiun Bogor dan naik Pakuan Ekspress ke Jakarta lagi… hmmm, bertemu makhluk2 manis dalam kereta yang tidak sesak sama sekali, wangi, dan adem, dengan penghuni yang asik maen laptop, baca koran, ato sekedar dengerin musik dari hp ato mp3. jomplang banget dengan kelas ekonomi. Stasiun Juanda, kami turun dan berganti naik busway ke Harmony… Astagaaaaa, kami terjebak antrian luar biasa di busway, aku dan W sepakat pegangan tangan erat-erat mengingat hp kami sudah tewas semua jadi akan sangat susah kalo terpisah. dari Harmony kami ke Senen… pegel boooo… berdiri terhimpit manusia. hebat orang jakarta ini, seneng banget dengan gaya hidup uyel-uyelan.

08:18 pm nyampe di stasiun Senen, we missed the last bussiness train to Jogja, gggrrrr… padahal kaki udah mau cofottt… akhirnya bo, ngantri beli tiket kereta ekonomi… OH NO… kereta Progo laggiiii…!!!! di karcis tertera berangkat jam 09:00 pm jadi kami nyantai-nyantai di bangku tunggu… ternyata kereta sudah penuh! Di sono noh, di parkir di deket mushola, wooo… pitik pruthul, kami lari-lari nyari tempat duduk, bahkan sempet mau menggunakan jasa calo. Syukurlahhh… dapet tempat duduk. Kami duduk bersama pak Rizal, pegawai pabrik yang tinggal di Teluk Naga, Tangerang. Keluarga yang sangat baik dan ramah. Suami istri yang sederhana ini menceritakan kehidupan keluarganya, anak-anaknya yang berjumlah empat orang, penghasilannya, dan juga keluarga mereka di kampung. Pak Rizal bercerita anak pertamanya sudah lulus akademi, yang kedua juga sudah lulus STM Bandara dan bekerja di bandara, yang ketiga mau masuk SMP, dan yang kecil baru masuk SD. Seberat apapun shif yang harus dijalaninya di pabrik, dia tidak mau mengeluh, baginya pendidikan anak-anaknya adalah yang nomer 1. Bu Rizal bercerita tentang keluarganya di kampung, di pesisir laut selatan. Katanya, sejak desanya sering menerima KKN Mahasiswa, perekonomian mereka naik, karena mereka diajari banyak hal oleh mahasiswa, terutama bagaimana mendapatkan air bersih, mengolah rumput laut, dan banyak komoditi yang bisa menarik wisatawan kesana. Aku terharu sekali dan malu, karena sebagai mahasiswa, aku merasa belum memberikan apapun pada masyarakat ini.
Kereta penuhhhhh, bahkan ada orang yang terang2an tidur di dengkulku… geser mas, pegel! ku toleh disebelahku, W tidur nyenyak, capek gila kayaknya. hehe

Jumat, 9 Juli 2010
Kami tiba di lempuyangan, Jogja jam 09:00 am.. Hmmm, memang kereta Progo ini saingan sama bekicot, hehehehe.. Padahal harusnya nyampai jam 7.  Hal pertama yang kami cari adalah wartel, karena hp kami koid dari semalam, pasti orang tua kuatir. Ku telp ibuku “halo mak, semalem telp aku ngga, hpku mati aku dah nyampe Jogja,’ jawab emakku, ‘Nggak telp kok, ya sukurlah’, lhoh??? Kurasa aku anak yang diadopsi, he he.

Keluar dari stasiun kami menghampiri sebuah warung, trauma, aku bertanya dulu, “Bu, teh manis panas mongah-mongah sama bakwan satu berapa?” jawab si ibu, “Dua ribu,mbak” , “teh panas bu yaaa…” hehehe…

Perjalanan yang panjang dan juga singkat sebenarnya. Pengalaman kami menjelajah dunia dalam dua hari. Bertemu dengan masyarakat yang sesungguhnya. Masih terpeta dalam otak kami, dunia kelas ekonomi, dunia dalam gedung Rajawali, dunia dalam lembaga keilmuan, dan dunia dalam diri kami. Dua dunia yang beririsan. Kesenjangan sosial yang begitu nyata.

Hidup yang heterogen. Kami melihat betapa kerasnya orang mempertahankan hidup. Perjuangan hidup yang dibagikan kepada kami oleh keluarga-keluarga yang kami temui di KRL ekonomi, pedagang, penumpang, sopir taksi, pengguna angkutan busway, bahkan para peneliti.

Semoga dengan ini semua, kami menjadi lebih bisa bersyukur, lebih bisa rendah hati, dan lebih mementingkan kehidupan bersama dibanding kepentingan diri sendiri. Terketuk hati untuk memberikan suatu sumbangsih terhadap bumi pertiwi ini.

Tapi dari sepanjang perjalanan ini, aku tidak akan pernah lupa ketidaknyamanan yang membuatku selalu bersyukur dengan kenyamanan yang kuperoleh dalam hidupku… perjalanan dengan kereta api ekonomi.

Yogyakarta, 19 Juli 2010
Capung Merah


Ps : Jika ingin artikel Anda dimuat di situs Tim Pendamping IPB silakan kirimkan artikel Anda ke :
me@cahyohanendyo.com
You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Perjalanan Tak Terlupakan (Menjelajah Lain Dunia)”

  1. Clara says:

    Salam Kenal,

    Saya Clara, sungguh suatu anugerah buat saya bisa menemukan blog Tim Pendamping IPB, begitu hidup suasana yang saya rasakan di tempat ini dan semoga bisa menjadi panutan untuk teman-teman yang lainnya.

    Terima kasih untuk semua artikel yang telah ada, tetap berbagi ya..

    Peluk dan salamku untuk semua keluarga baruku di Indonesia.

    Clara

  2. arkida says:

    sungguh suatu rangkaian pengalaman seru, dan selalu menarik untuk terus dikenang & diceritakan.

Leave a Reply

Psssttt!!! Temenmu mampir kesini pake kata kunci ini lho:

Powered by WordPress | Belajar WordPress | Kursus Seo | Souvenir Pernikahan | Peluang Usaha