Cerita ini adalah cerpen fiktif dariku, tadi bukan hal yang tidak pernah terjadi dalam kehidupan kita. Cerita ini pernah dibawakan di suatu acara kita tahun 2006, tapi aku pikir masih layak untuk dibagikan bagi yang belum mendengar.
Aku adalah anggota Tim Pendamping, sebuah tim pelayanan di IPB. Dalam tim ini aku punya seorang sahabat. Namanya Clara, dia cantik, menarik, cerdas, supel, banyak ide, dan lain-lain. Dia seperti pelita di tengah badai. Selalu menjadi pusat perhatian. Sedang aku adalah sebutir batu hitam ditengah semak-semak, bisu, tidak berarti, tidak tampak.
Suatu kali seperti biasa, kami mengadakan rabuan untuk membahas kegiatan, materi, danus, dan sebagainya. Aku datang paling awal. Itulah pendamping, kadang tidak menghargai waktu, setelah setengah jam aku menunggu, anak-anak bermunculan dan kita mulai rapat. “Jumat depan kita pembinaan, PJ pembinaan silakan…”, kata koordinator pendamping memulai rapat. “ Oke, aku sudah berembuk dengan anak materi, besok temanya ‘lingkungan baru’, MCnya Ria dan Doni.bla…bla..bla…” tentu saja aku langsung terkejut, aku? MC? Ah, pasti seru, aku kan jarang tampil di depan umum, hehehe… Belum selesai penjelasan dari PJ pembinaan, Clara muncul…”sori telat, abis latihan teater…”. Ya, aku tahu, tadi dia sudah sms bagaimana dia sibuk karena terpilih pemeran utama dalam drama yang akan dipentaskan, oh God, kenapa dia begitu sempurna. Tanpa sadar aku membiarkan monster iri hati menguasai hatiku… Dia mulai tumbuh membesar disitu dengan tentakelnya yang banyak.
“Lagi bahas apa ni…?”, tanyanya sambil mulai ngubek-ubek tas ngeluarin agenda. Setelah diceritakan ulang, dia langsung punya 1001 ide untuk susunan acara dan materi. Lalu seperti biasa, anak-anak setuju dengan apa yang dikatakannya. Dan “Oh, gitu ya…lu kayaknya lebih ngerti deh enaknya acaranya gimana, sekalian aja ya lu nge-MC, lu kan bocor abis kalo ma Doni, gimana? Pada setuju gitu kan?”, kata PJ pembinaan. Aku? Ria? Lupakan aja, deh… “Kata gue, Ria renungan penutup, ya… gimana?”, lanjut Clara, ya…aku…tukang berdoa, atau renungan, ya kan? Aku kan alim. Hmmm… aku cuma senyum, ngangguk, dan bilang “ya udah…”. Di dalam hatiku, monster itu menggerung tidak senang .
Malamnya, di kamar, tentu saja ada Clara, satu kost sih… Dia akan menceritakan sepuluh juta kata tentang kejadian yang dialaminya hari ini. Mulai kuis praktikum yang dapet 100 sampai sms dari fans-fansnya. Lalu pembicaraan kami, sebenarnya monolog Clara sampai pada pendamping, tempat dimana aku dan dia satu tim. “Ria, nanti renungan pembinaan tentang apa? Konsepnya seperti apa?”, tanyanya, “Em…seperti ini…”, aku mulai menjabarkan konsepku, dan dia cuma mengangguk-angguk. “Masalah begituan, gue selalu percaya ama lu, Ri…” katanya sambil menepuk-nepuk punggungku.
Tiba-tiba aku melihat Clara dari posisi baru. Dia percaya padaku, sahabatnya…dan dia tidak pernah melupakanku, setiap kali ada acara dia mengajakku, menunjukku, seperti kata dia sesuai karakterku, dia mengenalku, dan kalau aku pikir…tugasku sebenarnya juga berat dan penting. Dia tidak tahu kalau aku yang pertama mau jadi MC, dia juga tidak minta. Dia juga bukan orang yang sangat sempurna… Aku sahabatnya, aku tahu kapan dia gagal, menangis… Aku sadar, aku mulai mencekik monster yang selama ini hidup dihatiku, kupotong-potong tentakelnya sebelum dia menjalar keseluruh hidupku, huh, I’ll show you who is the master ugly monster!!! Setelah monster itu mati, aku berkata padanya, “Clara, bisakah kau ajari aku jadi MC? Bukan untuk yang besok sih, tapi… lain kali?”, dia membuka mata, “Oh, gitu…? gue yakin kok, lu bisa… Ri, tahu ga, gue selalu pilih lu paling akhir, bukan karena gue ga percaya ama lu, tapi karena gue nunggu lu meminta sesuatu…mengusulkan sesuatu, atau menyuruh sesuatu, karena gue percaya lu sebenernya bisa… OK? Mau gantiin gue jadi MC?”, katanya sambil senyum-senyum. “ Aku percaya… MC? Boleh..” lalu kami tidur. Aku melirik sudut hatiku, ada bangkai monster disitu, syukurin lu, batinku, hehehe…
Yogyakarta, 6 Agustus 2010
Capung Merah
RSS Feed
Twitter
Posted in
Tags:
yapz..begitulah lika-liku dalam hidup kita…
monster itu selalu ada bahkan tumbuh besar sesuai dengan proses kehidupan kita..jika kita tidak menyadari kehadirannya sejak dini dan menyingkirkannya,,maka dia semakin besar dan besar tumbuh dalam hidup kita,,dibutuhkan ketulusan, kepasrahan, kesabaran, dan semangat untuk berjuang dalam hidup supaya monster itu tidak tumbuh lagi dalam hidup kita lagi, dan akhirnya,,dahhh monsteeerrrr….^^…
cheers,,
jimboy,
Cerita yg bagus,
Salam Kenal.
J.Krisnomo
Artikel Bagus,
Salam Kenal
J.Krisnomo