Hari ini saya sedikit frustasi sebenarnya. Ada urusan yang membuat saya meninggalkan pekerjaan saya di laboratorium untuk beberapa hal, aku harus ke ujung kota ini dan melawan kemacetan yang terjadi dimana-mana. Setengah terburu-buru saya mengutuk kemacetan jl. Raya Bogor-Jakarta yang terjadi karena penggusuran bengkel dan warung semipermanen di sepanjang pinggir jalan itu oleh petugas satpol pp dan petugas kepolisian. Raut muka pemilik warung terlihat kuyu, patah semangat dan penuh rasa bersalah.
Saya tidak punya waktu banyak untuk bersimpati ataupun merenungkan nasib mereka, saya menggeber motor menyelinap diantara mobil-mobil yang padat merayap. Saya harus segera sampai dan segera kembali sebelum jam 3, waktu itu jam 11.30. Hmm, ternyata Tuhan ingin menunjukkan sesuatu, hp saya berdering terus-menerus, takut itu telp dari orang di lab, saya menepikan motor dan mengangkat telp. Kebetulan atau tidak saya menepikan motor persis di sebelah gerobak bakso yang tampaknya ramai pembeli.
Setelah menerima telpon, saya masih mengirim beberapa sms penting. Sambil mengetik sms, saya mau tidak mau mendengar percakapan orang-orang itu, yang ternyata pemilik warung dan lapak yang digusur petugas. Bukan itu yang menarik perhatian saya, tapi mas tukang bakso itu, dia memanggil dan mondar-mandir melayani mereka dengan bermangkok-mangkok bakso… Dia kembali ke gerobaknya meracik bakso dan mengantarnya ke beberapa orang yang duduk di bekas warung mereka, “Ini kang.. ini.. ayoooh, ambil… gratis.. urang kasih gratis hari ini… ulah ceurik deui kang… Alloh kasih rejeki lain ntar, ayoooh..”
Dia masih muda, mas itu, berkaos hitam, bercelana jeans, dan berambut keriting. Berperawakan kurus dan berkulit hitam… Tapi di mata saya… dia punya dua sayap di punggungnya.
Kota Hujan, 27 Oktober 2010
Capung Merah
RSS Feed
Twitter
Posted in
Tags:
pemda seharusnya memberikan solusi atas penggusuran seperti ini dengan penyediaan lokalisasi usaha di lokasi-lokasi strategis (dengan retribusi sebagai sumber pemasukan bagi pemda). dengan demikian, mas tukang bakso (yang punya dua sayap di punggungnya) bisa mengepakkan kedua sayapnya lebar-lebar.