Cerita dari Gerbong Tiga


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Kehidupan itu seperti awan yang berarak-arakan di langit yang luas. Terkadang
putih gendut-gendut dan cantik, bergumpal-gumpal seperti gula kapas yang sedap.
Terkadang tampak suram dan begitu sedih. Terkadang tampak bergelayut hitam
seperti menyedot kebahagiaan siapapun yang di bawahnya.

Aku memperhatikan itu dari kaca jendela gerbong tiga kereta pakuan ekspress
yang membawa jasadku dari bogor ke jakarta. Pikiranku terbang bebas menembus
rangkaian kereta itu, meninggalkan teman seperjalananku yang tertidur lelap
dalam mimpinya yang indah. Jauh melayang sampai ke awan gemawan dan melihat
kehidupan di bumi yang kecil.

Pernahkah terpikir olehmu bahwa aku ini seperti narapidana yang sudah menjalani
proses persidangan dan divonis sebuah hukuman? Mungkin kamu akan melihatku
tertawa seolah-olah dunia ini berpihak padaku. Tidak. Aku merasa seperti sebuah
layang-layang yang diterbangkan dengan seutas tali yang rapuh. Ketika aku
membumbung tinggi dengan mimpi-mimpiku dan dorongan palsu untuk meraihnya,
ketika aku merasa sebebas merpati dan tertawa lepas dalam kebahagiaan yang
wajar dan manusiawi, aku ditarik ke bawah… Aku ditarik kebawah dengan begitu
hebat dan tali itu putus… Saat itu aku mengutuki gravitasi yang membuatku
tersedot ke bawah.

Aku tidak pernah pergi ke lembaga pemasyarakatan, aku tidak pernah melakukan
tindak kriminal yang bertentangan dengan hukum. Tapi kawan, aku tahu rasanya
dipenjara. Aku tahu bagaimana rasanya mimpi-mimpi dan perjuanganmu dimutilasi.
Rasanya seperti hendak berteriak tapi tidak punya mulut. Rasanya seperti ingin
mencucurkan air mata tapi tidak punya mata. Orang bilang setiap pribadi boleh
memiliki pilihan. Bagaimana kalau yang tersisa dalam pilihan itu semuanya
buruk? Tentu kamu akan memilih yang terbaik dari yang terburuk. Dimana pilihan
itu jatuh pada seutas tali yang mengikat diri ini supaya tidak terbang lagi.

Aku tersenyum pahit dan mengirimkan air mataku pada rintik hujan yang turun
dari langit. Sulit menghitung berkat saat merasa pedih seperti ini tapi aku
tetap mencoba bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang dan nanti. Aku
sekarang tahu apa perasaan Harry Potter saat dia mengetahui ramalan dirinya dan
Voldemort, harus dia yang maju dalam peperangan itu. Aku sekarang mengerti
perasaan Yesus saat dia berdoa di Getsemani sebelum Dia dibunuh.

Ya… itulah peperangan yang akan kuhadapi, sendiri…

Bunyi seorang anak kecil batuk-batuk membawaku kembali ke gerbong itu. Aku
menengok ke teman seperjalananku yang terkulai di sebentar di bahuku, tertidur
lelap dalam kedamaian. Aku tersenyum… Damai sekali wajah muda ini. Tergores
di keningnya begitu banyak harapan dan masa depan yang gemilang. Kehidupan yang
panjang membentang seperti belantara perawan yang siap dijelajahi dengan
petualangan yang asyik. Seperti seekor merpati yang siap terbang bebas menembus
langit-langit luas.

Aku menarik satu napas panjang, mencoba menyemangati diri sendiri. Hatimu
adalah milikmu yang paling pribadi. Mereka mungkin berhasil merenggut
kehidupanmu. Tapi tidak dengan hatimu, yang terlindung di dalam cintamu yang
murni. Tetaplah hidup, tetaplah mengasihi, dan tetaplah tertawa… Aku
tersenyum lagi dan menepuk teman seperjalananku, membangunkannya, karena kereta
sudah memasuki stasiun terakhir tujuan kami….

Kota Hujan, 6 February 2011

Capung Merah


Ps : Jika ingin artikel Anda dimuat di situs Tim Pendamping IPB silakan kirimkan artikel Anda ke :
me@cahyohanendyo.com
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Psssttt!!! Temenmu mampir kesini pake kata kunci ini lho:

Powered by WordPress | Belajar WordPress | Kursus Seo | Souvenir Pernikahan | Peluang Usaha